Senin, 24 Juni 2024

Cinta Bersemi di Bawah Naungan Adat, Farhan dan Desi Menyatukan Dua Hati

Perpaduan Tradisi dan Modernitas Mewarnai Resepsi Pernikahan di Cotbatee

Rabu, 22 Mei 2024 | 19:29
Laporan: Abdi Safaren
Cinta Bersemi di Bawah Naungan Adat, Farhan dan Desi Menyatukan Dua Hati
Farhan Zikry, SH, MH dan Desi Andriana, S.Pd melangsungkan pernikahan mereka dengan penuh adat istiadat Aceh yang kental dan khidmat, Rabu (22/05/2024)

BIREUEN [KLIKINDONESIA] - Nuansa bahagia menyelimuti Gampong Cotbatee, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, Aceh pada hari Rabu, 22 Mei 2024. Farhan Zikry, SH, MH dan Desi Andriana, S.Pd melangsungkan pernikahan mereka dengan penuh adat istiadat Aceh yang kental dan khidmat.

Sejak pagi, masyarakat Cotbatee sudah ramai berdatangan untuk menyaksikan prosesi pernikahan adat yang sarat makna ini. Rangkaian acara diawali dengan penjemputan rombongan Dara Baroe (pengantin perempuan) dengan lantunan zikir dan Seumapa (berbalas pantun) yang merdu. Suasana semakin semarak saat prosesi penyerahan dan penerimaan Batee Ranub (sirih) berlangsung.

"Penyambutan Dara Baroe dengan Seumapa merupakan tradisi yang sudah turun temurun di Aceh," jelas Kabid Putro Phang Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Bireuen, Sakdiah Amin. Ini tambahnya, merupakan simbol penghormatan dan rasa syukur atas pernikahan yang suci ini."

Prosesi adat dilanjutkan dengan Peusijuk, yaitu pembacaan doa dan pemercikan air zamzam kepada kedua mempelai. Doa dipanjatkan agar pernikahan Farhan dan Desi diberkahi Allah SWT dan dipenuhi kebahagiaan.

Momen haru dan penuh makna mewarnai prosesi Peut Campli' (petik cabai). Dalam tradisi ini, Ibu dan Ayah Dara Baroe memetik cabai di kebun Linto Baroe (pengantin laki-laki) sebagai simbolis penerimaan Dara Baroe ke dalam keluarga baru.

"Tradisi Peut Campli' ini menunjukkan bahwa Dara Baroe sudah menjadi bagian dari keluarga Linto Baroe," ungkap Sakdiah sambial mengatakan drinya harus siap sedia membantu suami dan keluarga barunya dalam suka dan duka.

Pernikahan Farhan dan Desi bukan sekadar penyatuan dua insan, tetapi juga pelestarian budaya Aceh yang kaya dan penuh makna. Di tengah gempuran modernisasi, mereka memilih untuk tetap teguh memegang adat istiadat leluhur.

"Kami ingin pernikahan kami menjadi contoh bagi generasi muda untuk selalu menghormati dan melestarikan budaya Aceh," ujar Farhan dengan penuh rasa bahagia.

Desi pun mengamini pernyataan sang suami. "Semoga pernikahan kami menjadi awal kehidupan yang penuh berkah dan kebahagiaan," tambahnya dengan senyum manis.

Pernikahan Farhan dan Desi menjadi bukti bahwa adat dan budaya Aceh masih hidup dan dijaga oleh generasi muda. Perpaduan adat dan cinta dalam pernikahan mereka menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus melestarikan budaya warisan leluhur.*

Kirim Komentar

Berita Lainnya